Uswahshop Feed

Minggu, 27 Desember 2009 - 09:53:28 WIB
Mengkupas Teknologi Peluru kendali
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Teknologi - Dibaca: 78 kali



Rusia Uji Coba Peluru Kendali Antar Benua



Militer Rusia pada
hari Selasa (24/12) waktu setempat berhasil melakukan uji coba peluncuran peluru kendali antar-benua yang mampu membawa beberapa hulu ledak nuklir. Senjata ini dipersiapkan untuk mengganti peluru kendali lama yang dibuat pada era Soviet, seperti RS-18 dan RS-20.
Peluru-peluru kendali ini di negara-negara Barat dikenal sebagai Stiletto SS-19 dan Satan SS-18.



Juru Bicara Angkatan Militer Strategis Rusia, Alexander Vovk kepada AP mengatakan, peluru kendali
RS-24 tersebut diluncurkan dari Plesetsk di kawasan Utara Rusia. Dalam uji coba, hulu ledak peluru berhasil menuju target di Kura, yang wilayah uji cobanya hingga Semenanjung Kamchatka sekitar 4.340 mil ke arah timur.



Vovk juga mengungkapkan, bahwa peluru kendali itu membawa banyak hulu ledak saat uji coba dilakukan. Namun, ia menolak untuk menyebutkan jumlahnya. Sementara, Interfax melansir bahwa RS-24 mampu membawa paling sedikit tiga hulu ledak.



Dikatakannya juga,
peluru kendali baru ini berbasis di Topol-M dan dibuat oleh tim yang sama dari Institut Teknologi Moskow pimpinan Yuri Solomonov. RS-24 pertama kali sukses diuji coba pada bulan Mei lalu. Peluru kendali Topol-M yang ada saat ini membawa hulu ledak nuklir tunggal dan mampu menuju target yang berjarak lebih dari 6000 mil.



Presiden
Vladimir Putin mamanfaatkan pendapatan yang besar dari minyak untuk memodernisasi militer Rusia, yang meningkatkan suhu ketegangan dengan negara-negara Barat. Kremlin secara terang-terangan menentang rencana Amerika Serikat untuk menyebarkan prajurit-prajuritnya di daerah pertahanan yang terdapat di Polandia dan Republik Ceko.



 



Kupas Teknologi Peluru kendali



Peluru kendaliPeluru kendali Topol-M yang ada saat ini, membawa hulu ledak nuklir tunggal dan mampu menuju target yang berjarak lebih dari 6000 mil. Itu sekitar jarak antara Ka'bah dg masjid Istiqlal.



Dr. Rinto
Anugraha (Dosen Fisika UGM Yogyakarta), menjelaskan tentang Jarak di Permukaan Bumi & Jarak Dua Tempat di Permukaan Bumi:



Pada
kesempatan ini, penulis akan menjelaskan beberapa aspek tentang jarak (distance) di permukaan bumi. Penulis akan meninjau dua hal, yaitu jarak dari permukaan bumi ke pusat bumi, serta jarak antara dua tempat di permukaan bumi. Pengetahuan tentang jarak dari permukaan bumi ke pusat bumi ada hubungannya dengan transformasi dari koordinat geosentrik ke toposentrik. Transformasi dari geosentrik ke toposentrik sangat penting dalam menghitung posisi benda langit, seperti hilal,
matahari, planet dan lain-lain dengan ketelitian tinggi. Sementara itu, jarak antara dua tempat akan berguna, misalnya ketika kita ingin menentukan jarak antara suatu tempat dengan Ka’bah.... See More



Kita sering menyatakan bahwa bumi berbentuk bola. Dalam banyak hal, ungkapan ini memang ada benarnya, terutama untuk mempermudah pemahaman tentang posisi di bumi. Namun sebenarnya pernyataan ini tidak seluruhnya benar, sebab bumi lebih tepat disebut berbentuk elipsoida, mirip seperti telur (dengan mengabaikan gunung, lembah dan sebagainya. Model yang lebih baik daripada elipsoida adalah geoid, tetapi tidak dibahas disini.). Jari-jari bola selalu konstan di semua permukaan bola. Namun, jari-jari bumi atau lebih tepatnya jarak dari permukaan ke pusat bumi tidak sama di semua tempat. Jarak dari permukaan ke pusat bumi mencapai nilai maksimum di ekuator (garis katulistiwa) dan minimum di kutub, walaupun selisih antara maksimum dan minimum cukup kecil dibandingkan dengan jari-jari bumi itu sendiri.



Garis lintang = 0 sama dengan garis khatulistiwa (ekuator) yang membelah bumi menjadi dua bagian utara dan selatan. Kota Pontianak di Kalimantan Barat dilewati oleh ekuator. Di belahan bumi utara (lintang utara), lintang bernilai positif. Sebaliknya di bumi selatan (lintang
selatan), lintang bernilai negatif. Contoh: 15 derajat LU (Lintang Utara... See More)
= 15 N (North) = 15 derajat. Sedangkan 30 derajat LS (Lintang Selatan) = 30 S (South) = -30 derajat. Kutub Utara (South Pole) = 90 N = 90, sedangkan Kutub Selatan (South Pole) = 90 S = -90. Jadi seluruh lintang permukaan bumi antara -90 hingga 90 derajat.



Dengan demikian, suatu tempat ditandai dengan koordinat bujur dan lintang. Koordinat tempat tinggal penulis saat ini terletak di bujur 130:25:57,11 E dan lintang 33:39:8,47 N. Kiblat shalat kita yaitu Ka’bah memiliki koordinat bujur 39:49:34,18 E = 39,82616111 derajat, dan koordinat lintang 21:25:21,03 N = 21,42250833 derajat [1]. Sebagai catatan, lintang Makkah yang lebih kecil daripada kemiringan sumbu rotasi bumi dengan sumbu bidang ekliptika bumi (yang nilainya saat ini sekitar 23:26:22 derajat) memungkinkan untuk matahari tepat berada di atas Ka’bah (Al-istiwa’ al-A’zham). Ini merupakan salah satu teknik klasik untuk menentukan arah kiblat, yaitu saat matahari tepat di atas Ka’bah. Insya Allah akan dibahas pada kesempatan lain.



Jarak Dua Tempat di Permukaan Bumi



Diketahui dua tempat/posisi di permukaan bumi. Tempat pertama memiliki koordinat geografis bujur B1 dan lintang L1. Tempat kedua B2 dan L2. Jarak antara kedua tempat tersebut dapat diketahui. Ada dua rumus yang akan diberikan disini.



Rumus
pertama adalah rumus sederhana yang mengasumsikan bahwa bumi berbentuk bola [2]. Sudut antara kedua tempat tersebut adalah d, dimana cos(d) = sin(L1)*sin(L2) + cos(L1)*cos(L2)*cos(B1 - B2) Jika sudut d dalam radian, maka jarak kedua tempat adalah s kilometer, yaitu s = 6378,137*d [km] Jika sudut d dalam derajat, maka jarak kedua tempat adalah s kilometer, yaitu s = 6378,137*pi*d/180 [km] dimana pi = 3,14159265359. Perlu diingat, 1 radian = 180/pi = 57.2957795 derajat.... See More



Rumus
kedua adalah rumus yang lebih kompleks dengan asumsi bahwa bumi berbentuk elipsoida [2]. Rumus kedua ini akan memberikan hasil yang lebih tepat, yang disajikan sebagai berikut. U = (L1 + L2)/2. G = (L1 -
L2)/2 J = (B1 - B2)/2 M = sin(G)*sin(G)*cos(J)*cos(J
) + cos(U)*cos(U)*sin(J)*sin(J) N = cos(G)*cos(G)*cos(J)*cos(J) + sin(U)*sin(U)*sin(J)*sin(J)
tan(w) = SQRT(M/N) dimana w dalam radian P = SQRT(M*N)/w D = 2*w*a E1 =
(3*P - 1)/(2*N) E2 = (3*P + 1)/(2*M) Jarak antara kedua tempat adalah s
= D*{1 + f*E1*sin(U)*sin(U)*cos(G)*
cos(G) - f*E2* cos(U)*cos(U)* sin(G)*sin(G)} dimana a = 6378,137 km dan f = 1/298,25722 = 0,0033528107.



Contoh: Tentukan jarak antara Ka’bah dengan Masjid Istiqlal dengan koordinat 106:49:50,64 BT dan lintang 6:10:11,2 LS.



Jawab: B1 = 39,82616111 derajat L1 = 21,42250833 derajat B2 = 106,8307333 derajat L2 = -6,169777778 derajat



Jika
kita gunakan rumus pertama, maka cos(d) = sin(L1)*sin(L2) +
cos(L1)*cos(L2)*cos(B1 - B2) cos(d) = 0,32230721 d = arccos(0,32230721)
= 1,242630573 radian Jarak antara Ka’bah dengan Istiqlal adalah s =
6378,137*1,242630573 = 7.925,668 km.



Jika kita gunakan rumus kedua, maka diperoleh hasil sebagai berikut. U
= 0.133105184 radian G = 0.24078812 radian J = -0.5847252 radian M =
0.338846395 N = 0.661153605 tan(w) = 0.715896517 w = 0.621315286 radian
P = 0.761799321 D = 7925.668033 km E1 = 0.972087237 E2 = 4.847916358
Jarak antara Ka’bah dengan Masjid Istiqlal adalah s = 7918.900 km =
7918 km 900 meter.



Sebagai catatan, kedua rumus di atas
digunakan untuk dua tempat yang terletak di permukaan bumi (ketinggian
= 0 dari permukaan laut). Tentu saja dalam realitanya, Ka’bah dan
Masjid Istiqlal memiliki ketinggian tertentu dari permukaan laut.



Sebagai
pembanding untuk kedua rumus di atas, Vincenty [3] telah menurunkan
rumus untuk menentukan jarak antara dua titik. Rumusnya lebih rumit
sehingga tidak diberikan disini, namun tingkat ketelitiannya sangat
tinggi hingga orde milimeter. Untuk soal jarak Ka’bah - Masjid
Istiqlal, rumus Vincenty memberikan hasil 7918 km 930 meter. Nampak
bahwa rumus kedua memberikan hasil lebih dekat dengan rumus Vincenty
dengan selisih hanya 30 meter. Namun demikian, rumus pertama jauh lebih
simpel



Jarak
terpisah antara Ka’bah dan Indonesia berkisar pada orde 6000-an (Aceh)
hingga 11.000-an (Papua) km. Jauhnya jarak ini bermakna bahwa jika arah
kiblat kita melenceng 1 derajat saja dari arah yang benar, maka
penyimpangannya sangat besar dari Ka’bah itu sendiri. Jika jarak yang
terpisah adalah 8000 km, maka penyimpangan arah kiblat 1 derajat
memberikan penyimpangan posisi kiblat dari Ka’bah sebesar 8000*1*pi/180
atau sekitar 140 km dari Ka’bah. Ini menunjukkan betapi pentingnya
tempat shalat kita menunjuk pada arah kiblat yang benar.



File Microsoft Excel dan html



File
Excel yang berisi tentang jarak dari permukaan bumi ke pusat bumi serta
jarak antara dua tempat dengan menggunakan dua rumus dapat didownload
di http://ifile.it/73t2ebo Adapun file html yang berisi JavaScript rumus Vincenty dapat didownload di http://ifile.it/r53q9c7 yang merupakan modifikasi dari http://www.movable-type.co.uk/scripts/latlong-vincenty.html



Semoga bermanfaat.



Dr. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM Yogyakarta)



Referensi:
[1] Menurut Google Earth, koordinat tersebut adalah koordinat titik
tengah Ka’bah. [2] Jean Meeus: Astronomical Algorithm, Willmann-Bell,
Virginia, 1991. [3] T. Vincenty: Direct and Inverse Solutions of
Geodesics on the Ellipsoid with application of nested equations, Survey
Review, vol XXII no 176, 1975 (http://www.ngs.noaa.gov/PUBS_LIB/inverse.pdf)



 



Sebagai tambahan, Peluru Kendali Agni IV buatan India, mampu menempuh jarak 6000 Km: http://id.wikipedia.org/wiki/Agni_%28peluru_kendali%29


 



Bookmark & Share  ADD TO DEL.ICIO.US ADD TO DIGG ADD TO FURL ADD TO NETSCAPE ADD TO REDDIT ADD TO STUMBLEUPON ADD TO TECHNORATI FAVORITES ADD TO SQUIDOO ADD TO WINDOWS LIVE ADD TO YAHOO MYWEB ADD TO GOOGLE

1 Komentar :

rizal


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Pilih emotions :
Komentar :
 
Security Code :

 

 




  

Protected
Sertakan sumbernya jika copy paste

Valid
[Valid
click for a free hit counter
Hit the Hit web page.